Membangun Kohesi Sosial Sebagai Senjata Strategis Masyarakat Kota Melawan Covid-19

Krisis pandemi COVID-19 yang telah meluas, dari krisis kesehatan menjadi krisis ekonomi dan sosial yang besar, memiliki dampak yang tidak simetris (asymmetrical impacts) di berbagai wilayah, dimana masalah utama yang dihadapi satu daerah bisa sangat berbeda daerah lainnya. Sayangnya kebijakan yang diambil untuk menghadapi pandemi dibuat seragam tanpa melihat karakteristik masyarakatnya.  Hal ini menjadi latar belakang gagasan perlunya pendekatan berbasis wilayah dan berpusat pada masyarakat.

Masyarakat lingkup kota/kabupaten atau yang lebih sempit memiliki peran kunci yang sangat penting menghadapi pandemi ini, bukan hanya sebagai ‘frontliner’ tetapi juga sebagai perangkat strategis dalam memindai pengaruh sebuah kebijakan atau respons dalam masyarakat dan kemudian meramunya menjadi sebuah strategi-strategi baru yang lebih baik.

Masyarakat kota yang seharusnya berada pada keadaan yang lebih baik, karena fasilitas perawatan kesehatan yang lebih banyak dan lengkap, justru menghadapi tantangan yang lebih berat karena tingkat kepadatan penduduk tinggi, tingkat mobilitas anggota masyarakat tinggi, ketidak setaraan sosial-ekonomi, hingga ikatan sosial yang lemah.

Dan dalam menjalankan peran strategisnya menghadapi pandemi, masyarakat kota menghadapi tantangan yang sangat kompleks.

Tantangan Yang Sangat Kompleks

Tantangan yang sangat berat datang dari aspek psikologi yang berkembang di masyarakat. Psikologi sendiri adalah sebuah epidemi (psydemic) menyebar dari satu individu ke individu di masyarakat dengan sangat cepat dan luas. Menurut Philip Strong (1990, “Epidemic psychology”), epidemi kejiwaan, berupa rasa takut, curiga, dan panik menyebar dengan cepat dan luas dalam beragam bentuk.

Tantangan yang lain adalah meluasnya penyebaran informasi yang salah yang diistilahkan sebagai “infodemic”. Pada saat kepercayaan dan kepatuhan warga masyarakat terhadap langkah-langkah dari PPKM hingga protocol kesehatan (prokes 3M) sangat penting, lonjakan disinformasi merusak upaya pemerintah melawan pandemi Covid-19 dan membahayakan kesehatan masyarakat. Informasi yang salah tentang Covid-19 menantang saran kesehatan masyarakat resmi dan mungkin sulit untuk diidentifikasi.

Beberapa dari nasihat medis yang tidak berdasar ini diberikan oleh individu yang berlagak sebagai ahli medis atau ahli medis asli yang telah menjadi agen kepentingan industry, telah menciptakan kekeruhan ruang publik yang menyebabkan kesulitan masyarakat menemukan informasi yang valid. Sebaliknya, desas-desus yang meragukan kemanjuran PPKM dan vaksinasi atau “informasi” yang menyesatkan tentang bagaimana penularan terjadi telah meyakinkan beberapa orang untuk melanjutkan kegiatan mereka yang bertentangan dengan protokol kesehatan.

Tantangan yang terbesar adalah penurunan ketahanan masyarakat terkait ekonomi. Jutaan kepala keluarga kehilangan pekerjaan. Ketahanan sosial masyarakat kota dalam melawan pandemi dan pemulihannya tergantung pada komposisi industri, kerusakan pasar tenaga kerja dan keterbukaan perdagangan. Penerapan PPKM yang lebih ketat yang sesungguhnya sangat dibutuhkan dalam rangka menahan laju penyebaran virus, telah mengancam kelangsungan mata pencarian mereka. Rasa frustasi dapat berakibat fatal berupa penurunan kekebalan tubuh dan pembrontakan terhadap aturan yang diterapkan.

PPKM, atau apapun istilah bagi ‘social distancing’, juga telah memberikan tantangan berat pada masyarakat kota. Manusia adalah makhluk sosial, tekanan emosi dan psikologi muncul akibat menjaga jarak sosial, terutama pada remaja bisa dibilang jauh lebih besar. Remaja dan orang muda tidak cocok untuk isolasi. Kebijakan untuk tetap di rumah membuat mereka stress. Christine L. Carter Ph.D.  (2020) mengatakan,“Remaja dan mahasiswa telah memperkuat motivasi perkembangan naluriah yang membuat mereka sulit untuk diisolasi di rumah. Perubahan hormonal yang datang dengan pubertas berkonspirasi dengan dinamika sosial remaja untuk membuat mereka sangat selaras dengan status sosial dan kelompok sebaya.

Membangun kohesi sosial sebagai senjata strategis melawan pandemi.

Di setiap guncangan krisis, baik bencana alam, krisis keuangan, pandemi, atau konflik bersenjata, memiliki efek sosial, politik, dan ekonomi yang bertahan lama pada masyarakat dan kesehatan masyarakat. Kohesi sosial adalah sumber daya penting untuk ketahanan masyarakat dalam menghadapi guncangan. Kohesi sosial adalah komponen penting masyarakat di masa tenang, masa terguncang krisis, pasca krisis, dan masa pemulihan.

Kohesi sosial mengacu pada tingkat keterhubungan sosial dan solidaritas antara kelompok masyarakat yang berbeda dalam suatu masyarakat, serta tingkat kepercayaan dan keterhubungan antara individu dan antar kelompok masyarakat. Kohesi ada di berbagai tingkat organisasi, dari tingkat rumah tangga hingga hubungan internasional. , yang kesemuanya saling terkait dan berinteraksi satu sama lain. Hubungan antara individu, komunitas dan pemerintah di tingkat pemerintahan, regional, dan nasional mereka dipengaruhi oleh tingkat kohesi sosial.

Bencana Covid-19 telah menimbulkan defisit dalam kohesi sosial dan memperburuk kesenjangan sosial yang ada di tingkat rumah tangga, komunitas, lokal, regional, dan bahkan nasional. Akibatnya adalah masyarakat menjadi lebih berat yang akhirnya juga memperburuk kondisi sosial dan ekonomi.

Menjaga jarak sosial (social distancing) tercatat sebagai strategi efektif untuk membendung perkembangan Covid-19 di negara-negara termasuk China dan Korea Selatan. Di Italia, kasus baru yang dikonfirmasi akhirnya mulai turun sebagai tanggapan terhadap jarak sosial. Tetapi jarak sosial dapat menyebabkan isolasi sosial.

Menjaga arak sosial berarti jarak fisik, bukan berarti memutuskan ikatan sosial. Bahkan, di saat-saat krisis seperti Covid-19 ini, koneksi sosial dan solidaritas masyarakat ini sangat penting. Agar efektif, jarak sosial bergantung pada kohesi sosial. Kohesi sosial juga didefinisikan sebagai kesediaan para anggota masyarakat untuk bekerja sama satu sama lain untuk bertahan hidup dan sejahtera. Menjaga jarak sosial akan menguji kemampuan kita untuk menempatkan kepentingan dan prioritas sendiri di belakang kepentingan dan prioritas anggota lain dari komunitas kita, termasuk orang-orang yang kita tidak kenal. Individu memainkan peran penting dalam melindungi tidak hanya kesehatan mereka sendiri, tetapi juga kesehatan dan kesejahteraan komunitas mereka dan masyarakat secara keseluruhan.

Kohesi sosial akan menjadi senjata strategis yang efektif dalam menghadapi tantangan epidemi psikologis, epidemi disinformasi, kesenjangan ekonomi, serta rasa kesepian dan keter-isolasi-an. Kohesi sosial akan meningkatkan keterhubungan seluruh anggota masyarakat, yang pada ujungnya meningkatkan kesehatan fisik dan mental, serta kesejahteraan.

Kesimpulan

  1. Bencana pandemi Covid-19, bukanlah bencana yang dapat dihadapi sendiri. Bencana ini hanya bisa dihadapi dengan ikatan sosial dan solidaritas lintas sektoral, yang melibatkan seluruh aktor di sektor publik, sektor swasta, dan sektor sukarelawan atau aktivis sosial di berbagai tingkatan mulai dari lokal, regional, nasiona, hingga internasional.
  2. Dalam menerapkan kebijakan vaksinasi massal dan menjaga jarak sosial, pemerintah harus menggunakan pendekatan kewilayahan dan berpusat pada masyarakat, dengan prioritas pada program-program yang menguatkan kohesi sosial masyarakat.
  3. Tantangan yang lebih kompleks dihadapi oleh masyarakat kota dengan meliputi tantangan psikologis, tantangan disinformasi, kesenjangan sosial, dan rasa keter-isolasi-an, harus di hadapi dengan upaya-upaya membangun kohesi sosial sebagai senjata strategis menghadapi pandemi.
  4. Setiap individu anggota masyarakat akan memiliki peran sentral dan signifikan dalam membangun kohesi sosial dan ketahanan masyarakat kota.

Share and Enjoy !

Shares