ArtikelRamadhan KarimSorotan

Nabi Muhammad Diangkat Menjadi Rosul Ditandai Dengan Nuzulul Qur’an

Shares

Jakarta, Jurnalutara.com –  Nabi Muhammad diangkat menjadi rasul ditandai dengan turunnya wahyu pertama (Nuzulul Qur’an) Surat Al-Alaq ayat 1-5 di Gua Hira.

Ketika hampir mencapai usia 40 tahun, beliau banyak merenungkan situasi kaumnya dan menyadari bahwa banyak aspek dalam kehidupan mereka tidak sejalan dengan kebenaran.

Kondisi tersebut mendorongnya untuk sering mengasingkan diri dari masyarakat, dengan menghabiskan waktu di gua Hira di Jabal Nur. Di sana, beliau membawa air dan roti gandum sebagai persiapan. Pengasingan diri ini memberinya kesempatan untuk merenungkan tentang kebesaran Allah dalam ciptaan-Nya yang sempurna di alam semesta.

Selama masa introspeksi ini, semakin jelas baginya bahwa kaumnya masih terperangkap dalam keyakinan syirik. Meskipun menyadari keterpurukan mereka, pada saat itu beliau belum memiliki arah yang jelas atau metode yang tegas mengenai langkah yang harus diambil.

Nabi Muhammad diangkat menjadi rasul ditandai dengan menerima wahyu Surat Al-Alaq ayat 1-5 di Gua Hira. Menurut berbagai riwayat, Malaikat Jibril datang menemui Muhammad dalam keadaan penuh kesadaran.

Untuk memahami apa ayat yang menandai pengangkatan Nabi Muhammad SAW sebagai rasul, simak penjelasan selengkapnya berikut ini seperti yang telah dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber.

Nabi Muhammad diangkat menjadi rasul ditandai dengan menerima wahyu Surat Al-Alaq ayat 1-5 di Gua Hira. Ketika Nabi Muhammad SAW mendekati usia 40 tahun, beliau mulai sering mengasingkan diri dari masyarakat karena beliau menyadari bahwa banyak aspek dalam kehidupan kaumnya yang tidak sejalan dengan kebenaran.

Nabi Muhammad SAW biasanya mengasingkan diri di Gua Hira di Jabal Nur, membawa air dan roti gandum sebagai bekal. Gua Hira memiliki dimensi kecil, dengan lebar sekitar 1,75 hasta dan panjang 4 hasta, sesuai dengan ukuran dzira’ hadid.

Selama bulan Ramadhan, Nabi Muhammad SAW tinggal di dalam gua tersebut untuk beribadah. Di sana, beliau merenungi kebesaran Allah dalam penciptaan alam semesta yang begitu sempurna. Selama masa mengasingkan diri, beliau semakin sadar akan keterpurukan kaumnya yang masih terbelenggu oleh keyakinan syirik. Meskipun begitu, pada saat itu beliau belum memiliki panduan yang jelas atau metode yang tegas mengenai jalan yang harus diambil.

dengan kuat sehingga kehabisan tenaganya. Lalu Jibril untuk ketiga kalinya mendekap Nabi Muhammad SAW dengan kuat seraya berkata:

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ .خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ .اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ.الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ.عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ.

Artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran qalam (pena). Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al-Alaq : 1-5).

Ayat-ayat tersebut memiliki sejumlah isi kandungan yang sangat penting. Dilansir dari Merdeka.com, berikut adalah isi kandungan dari Surat Al-Alaq ayat 1-5:

1. Pentingnya Ilmu Pengetahuan

Ayat-ayat pertama dari Surah Al-Alaq menekankan pentingnya ilmu pengetahuan bagi manusia. Surat ini memerintahkan manusia untuk membaca dan belajar sebanyak mungkin. Dalam ajaran Islam, mencari ilmu merupakan tuntutan bagi setiap muslim, dimulai sejak lahir hingga akhir hayat. Dalam konteks ini, surat ini mengajarkan betapa pentingnya pengetahuan dalam kehidupan manusia.

2. Proses Penciptaan Manusia

Ayat-ayat ini juga menjelaskan proses penciptaan manusia. Manusia diciptakan dari segumpal darah (alaq). Penjelasan modern menunjukkan bahwa segumpal darah ini merujuk pada pertemuan sel telur dan sel sperma dalam rahim wanita. Allah SWT menciptakan manusia dengan bentuk paling sempurna dari seluruh ciptaan-Nya.

3. Perintah Membaca dan Belajar

Surah Al-Alaq juga memberikan perintah kepada manusia untuk membaca dan belajar. Membaca adalah cara penting untuk memperoleh ilmu pengetahuan dan memperluas pemahaman. Manusia diajak untuk memahami berbagai disiplin ilmu agar dapat menjadi bijaksana dan tidak mudah menyalahkan orang lain dalam perbedaan pendapat.

5. Ilmu Datang dari Allah

Ayat-ayat ini mengingatkan bahwa ilmu pengetahuan berasal dari Allah. Manusia tidak membawa apapun saat lahir ke dunia dan tidak memiliki pengetahuan. Allah dengan kemurahan hati-Nya mengajarkan ilmu kepada manusia melalui berbagai cara. Oleh karena itu, manusia harus menjadikan ilmu sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan untuk membuatnya sombong.

6. Tidak Mudah Menyerah

Proses turunnya ayat ini kepada Nabi Muhammad SAW juga mengajarkan tentang usaha dan ketekunan. Malaikat Jibril memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk membaca, dan meskipun beliau awalnya tidak bisa membaca, beliau tidak menyerah. Hal ini mencerminkan betapa pentingnya usaha dan kerja keras dalam menjalani kehidupan, serta keyakinan bahwa Allah senantiasa membantu hamba-Nya yang berusaha.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Shares

Masuk

Daftar

Setel Ulang Kata Sandi

Silakan masukkan nama pengguna atau alamat email, anda akan menerima tautan untuk membuat kata sandi baru melalui email.