Postur Strategis Di Tengah Kegilaan

Oleh Sandi Suryadinata

Sepotong mimpi telah mengantarkan pada kegelisahan yang membangunkanku dari tidur. Kegelisahan yang mendesakku untuk menuliskan artikel ini. Dan membagi kegelisahan yang sama kepada banyak orang. Mudah-mudahan gelisahku jadi berkurang.

Penting dibaca juga: Melawan Politik Uang Pada Pemilu Sebagai Prioritas Strategis Masyarakat Madani

Ada penyakit gila yang mewabah di negeriku. Orang-orang tiba-tiba pada kehilangan rasionalitasnya. Mereka berfikir, bersikap, dan berbuat hal-hal yang tidak dapat diterima akal sehat. Mereka menari tanpa musik. Berpesta tanpa santapan. Marah-marah terhadap kebenaran. Gembira ria atas kebohongan dan penipuan. Mereka melakukan semua hal yang tidak masuk akal sebagai kebiasaan. New normal !!!

Orang-orang tiba-tiba jadi gila. Semakin hari, semakin banyak yang gila. Penyakitnyapun semakin menggila. Dalam waktu singkat lebih dari separuh rakyat menjadi gila.

Yang anehnya, orang-orang gila itu seperti sepakat menuding orang-orang yang waras sebagai orang gila. Dan menganggap sesama orang gila sebagai orang yang waras. Mereka marah kepada yang tidak gila. Mereka mulai menyerang orang-orang yang tidak mengikuti kegilaan mereka. Merekapun marah kepada Raja, karena menurut mereka, Raja telah gila. Dan mereka tidak mau dipimpin oleh orang gila.

Tentu saja aku, sang Raja dalam mimpiku, menjadi sangat gelisah karenanya. Maka kupanggillah menteri yang paling aku percaya…

Raja : Wahai Menteriku… Tahukah kamu tentang penyakit gila yang mewabah di negeri ini?

Menteri : Tahu Yang Mulia. Hampir semua penduduk terjangkitinya. Lebih dari 60% kurang lebih. Dan mereka mendesak agar Yang mulia turun tahta. Semakin hari, mereka semakin marah terhadap Yang Mulia.

Raja : Apakah penyebabnya?

Gambar ilustrasi: Dancing Mass Madness

Menteri : Penyebabnya adalah air sungai satu-satunya yang mengalir dinegeri ini telah terpolusi racun. Siapa yang meminum air dari sungai itu, seketika dia akan menjadi gila. Dan karena sungai tersebut adalah satu-satunya sumber air utama di negeri ini, maka banyak sekali yang telah menjadi gila, dan akan semakin banyak. Mungkin sebentar lagi semua rakyat akan menjadi gila.

Raja : Apa bisa disembuhkan? Bagaimana caranya?

Menteri : Sebenarnya bisa, Yang Mulia. Di negeri kita banyak tumbuh tanaman yang dapat mengobatinya. Masalahnya adalah mereka tidak merasa gila. Sebaliknya mereka menuduh kitalah yang gila. Oleh karena itu mereka tidak mau berobat. Kalaupun kita paksa mengobatinya, butuh waktu yang lumayan lama untuk sembuh. Sementara semakin hari terus bertambah orang yang gila. Bahkan yang sudah kita sembuhkan pun banyak yang kembali gila karena kembali meminum air dari sungai itu.

Raja : Jadi apa saranmu, Wahai Menteri yang bijaksana?

Menteri : Ada dua saran yang dapat Paduka pilih. Satu yang mudah dan cepat. Yang yang satu lagi sulit dan akan memakan waktu lama.

Raja : Beritahu yang mudah dan cepat itu.

Menteri : Paduka segera meminum air sungai yang beracun itu.

Raja : Loh… Bukankah aku akan menjadi ikut gila?

Menteri : Memang benar Yang Mulia. Tetapi Yang Mulia akan aman, karena mereka justru akan menganggap Paduka Yang Mulia sudah waras kembali dan mereka tidak akan marah lagi, serta akan menerima kembali dipimpin oleh Yang Mulia. Dan bila Paduka Yang Mulia sudah ikut-ikutan gila, maka niscaya sisa rakyat yang waras akan segera ikutan gila juga.

Sang Raja menghela nafas berat. Mempertimbangkan saran ini. Lalu ia memerintahkan agar Sang Menteri memberitahu saran kedua, yang dikatakan sebagai saran yang sulit.

Menteri : Yang kedua ini sulit. Ini akan membutuhkan kerja keras dan akan memakan waktu cukup lama. Kita harus menyembuhkan rakyat yang sudah terjangkit kegilaan. Satu per satu. Kita juga harus mencegah yang masih waras dan yang sudah sembuh untuk tidak meminum air sungai beracun. Selain itu juga, kita harus membersihkan air sungai dari racun.

Menteri : Sungguh ini suatu kerja yang tidak mudah. Kerja keras yang akan sangat menguras tenaga juga biaya besar serta waktu yang cukup lama. Tapi insyaallah akan berhasil, dan kita akan kembali waras seperti sedia kala. Sangat tidak mudah dan sangat berat, tetapi sangat bisa kalau kita mau bersungguh-sungguh.

Nah… Sahabat-sahabatku. Seandainya Anda menghadapi sistuasi ini, maka pilihan mana yang akan Anda ambil?

Share and Enjoy !

Shares